Bapak

 

Perkenalkan, si Bapak bernama Muhammad Yunus bin La Dini. Seorang lelaki religius, humble dan  humoris. Wataknya keras, tegas dan disiplin. Warga desa memanggilnya Daeng atau kakak (bugis), sebagian lagi memanggilnya Bapak. Si Ibu bernama Sitti Aminah binti Saad. Seorang wanita sederhana, ramah dan penuh kasih. Beliau dipanggil Emma' oleh warga sekitar. Pasangan yang terkenal karena kerendahan hati dan keromantisannya. Mereka adalah orang tuaku.

Orang sekampung bilang, kalau mau melihat Romeo Juliet versi udiknya maka lihatlah mereka. Ada juga yang menyebutnya pasangan Gita Cinta Dari SMA. Terkadang kami anak-anaknya ikutan baper melihat ke uwuan mereka. Kemana-mana selalu bersama, makan pun kadang sepiring berdua. Pasang surut kehidupan mereka lalui bersama. Mulai hanya berjalan kaki, naik sepeda ontel berdua, kemudian bisa memiliki sepeda motor, hingga ahirnya bisa membeli roda empat.

Bapak selalu mendidik kami dengan penuh ketegasan. Terkadang menampakkan sosoknya yang keras tapi lembut, terkadang juga sebaliknya, lembut tapi keras. Bapak tidak akan segan menghukum kami bila ada yang berbuat salah. Bila ada yang bertanya apakah kami tertekan? Jawabannya ... tidak. Karena sebelum memberi hukuman, Bapak akan memberi kami kesempatan untuk merenungkan kesalahan kami dan memilih sendiri hukuman yang akan kami jalani. Pun biasanya, setelah memberi kami hukuman, Bapak akan merangkul kami dan mengatakan bahwa apa yang dilakukannya semata-mata adalah bentuk kecintaannya kepada kami.

Bapak tidak pernah memanjakan kami dari segi materi, walaupun sebagian warga desa menganggap bahwa Bapak mampu untuk melakukannya. Sebaliknya, Bapak selalu menekankan kesederhanaan dan kemandirian.

"Rezeki itu banyak sedikitnya harus disyukuri. Cukup tidaknya tergantung bagaimana kita menerimanya. Yang utama itu keberkahannya, tentang banyaknya itulah bonusnya. Dapat banyak ataupun sedikit, jangan lupa sedekahnya, Allah menitipkan rezeki mereka melalui tangan kita." Itu yang selalu dipesankan Bapak kepada kami.

Ah...Bapak, takkan habis kata untuk mengisahkan tentang dirimu. Anakmu rindu Pak. Rindu kisah masa mudamu yang penuh semangat juang, rindu petuah-petuah itu, rindu diingatkan hal remeh temeh lainnya

 Al-Fatihah untukmu Pak....



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Blog Sebagai Sarana Pembelajaran

Motivasi Menulis dan Menerbitkan Buku